Cari

menuju1titik

semua titik menuju1 titik, sisi_Nya

Qodarullah

Kalah menang itu Qodarullah
Tinggalkan menunggu waktunya
Ada saatnya menang
Ada saatnya kalah

Tinggal kesiapan kita menerima
Menang atau kalah
Pergerakan harus tetap jalan
Karena ini tak ada hubungan

Hakikat gerak itu
Tetap ada walaupun tak dianggap
Tetap bertahan walaupun tak berteman
Tetap terasa walaupun tak terlihat

Itulah gerakan
Ada simponi hidup dan irama
Sebab naluri bergerak
Bukan karena mendapat perhatian
Apalagi menunggu diamanahkan
Atau hanya sekedar perebutan jabatan
Uforia sementara jelang laga tak selesai

Malu

Malu
Bersembunyi dari nya
Setumpuk yang memanggil
Punya cerita dalam lembarannya

Awalnya ku berani hampirinya
Menyentuhnya dan mengambil beberapa
Yang ku suka
Sayang tak semua terbaca

Sekarang ku takut
Malu menghampirinya
Aku tak bertanggung jawab
Telah mengambilnya

Bahagia ia bersama ku
Awalnya tapi tak semua
Sebab tak terbuka helai demi helainya
Ku diamkan hingga debu membersamai

Dari jauh ku tetap memandangnya
Setumpuk rindu ku
Ingin membersamainya
Menelan butiran aksara didalamnya
Narasi dan diksi yang membuat bahagia
Ditengah ketiadaan ku dalam dunia
Tapi dialah jendela semua
Walaupun tak ada pintu terbuka
Tetap buku bait cerita cinta

PERTAMINA MAU DIBAWA KEMANA

Pertamina Mau Dibawa Kemana
Pertamina siapa yang punya
Pertamina untuk siapa
Adakah cerita baik dari Pertamina
Sampaipun kisahnya pekerja orang Indonesia

Dimana pertamina
Kenapa minyak mahal harganya
Bertambah sulit dinegeri penghasilnya
Apakah pertamina akan ada untuk anak cucu kita

Pertamina begitu seksinya
Ditengah kapitalisme gurita
Atau individulisme berkarya
Lebih baik diri diperkaya

Kenapa saya menulisnya
Panjang proses seleksi komisaris utama
Siapa yang jadi semoga memperbaiki bisa
Titip salam untuk para mahasiswa
Pemangku amanah dan jabatan negara
Tetaplah kawal dan hidupkan kritis jiwa
Sebab umpat dan puji penerus bangsa
Bisa menembus liang lahat kita
Walau raga sudah tak bernyawa
Hidup setelah mati pasti ada

74 Tahun Sudah

Indonesia
Satu Tanah Merah dengan Tumpah Darah
Berduka dalam merdeka merekah
Ditengah bunga gugur dan tumbuh
Sayatan pilu kehilangan yang dibalut tanah makam perjuangan

Indonesia
Satu Tanah Berharga dengan jual beli kuasa
Berbahagia dalam tangisan anak bangsa
Biarlah hancur sehancurnya yang penting ceruk kekayaan untuk mereka
Jangan tumbuh, layu bunga mati akarnya
Tanah mengubur bangkai manusia tak bisa

Indonesia
74 Tahun merdeka sudah
Merdeka yang terkungkung tangan kapitalisme
Tanah ini untuk memperkaya segelintir manusia
Apakah janji pancasila hanya jawaban klise pilkada
Demi mendapatkan suara dan bagi kursi semata

Indonesia
Titip doa dan usaha
Untuk mereka yang berjuang tanpa kenal raga
Mereka hadir bermanfaat bagi sesama
Mengembalikan tanah ini
Satu Tanah Tumpah Darah
Untuk kesejahteraan rakyatnya
Hingga pewaris tanah selanjutnya

Petunjuk Sunnah dan Adab Sehari-hari (Suami dan Istri)

melalui Petunjuk Sunnah dan Adab Sehari-hari (Suami dan Istri)

Wajar Sebagai Makhluk Sang Pencipta

Sahabat, sedikit cerita ku
bangga untuk sebuah pencapaian
Belajar untuk tidak memperdulikan
Memaafkan ketidakbiaasan diri
Yang sangat langka terjadi
Walaupun dengan senyuman airmata
Bukan bahagia tapi pelipur lara
Pembelajaran untuk hal yang harus dilupa
Semoga hati dan jiwa belajar terbiasa
Ada kala kita membuat luka
Sebab dunia ini tak indah selamanya
Kita tak bisa penuhi semua
Saatnya lambaikan tangan sampai jumpa
Akui menyerah sebagai manusia
Wajar sebagai makhluk sang penciptaPicsArt_02-08-11.33.22

Wajar Akhirnya Kita Pulang

Saat kembali pulang
Tempat semua bermula dan berakhir
Wajar akhirnya kita pulang
Tapi terkadang kita lupa
Bahwa pulang ada segalanya
Tempat kembali yang dirindukan PicsArt_12-26-07.12.05
Bisa disebuah titik penghabisan
Atau ada jejak yang dilanjutkan

Penulis Buku Obat Semua Hati

PicsArt_01-20-12.23.20.jpgEngkau Sang Maha pengatur strategi
Penulis buku obat semua hati
Hamba titipkan segalanya
Semuanya yang engkau titipi
Yang tak sanggup hamba kuasi
Seperti pikiran dan hati

Hanya Butuh Kejelasan Bukan Kepastian

Perempuan itu
Hanya butuh kejelasan bukan kepastianPicsArt_01-11-11.28.15
Sebab tak ada yang pasti di dunia ini
Sesuatu yang jelaspun belum tentu pasti
Kejelasan untuk menunggu atau berlalu
Sungguh hati yang lembut
Sungguh jiwa yang lemah
Bisa lumpuh hingga tak bertenaga
Luapan tangis mengakhirinya

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑